Promi adalah pormula microba unggul yang mengandung mikroba pemacu pertumbuhan tanaman, pelarut hara terikat tanah, pengendali penyakit tanaman, dan dapat menguraikan limbah organikpertanian/perkebunan. Bahan aktif promi adalah mikroba unggul asli indonesia yang telah di seleksi dan di uji di Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia yaitu Trichoderma harzianum DT 38,T; pseudokoningii DT 39; dan aspergillus sp.
Penggunaan promi sangat luas antara lain ;
- langsung diaplikasikan ke tanah/tanaman,
- untuk memperkaya kompos dengan mikroba yang bermanfaat, dan
- diaplikasikan pada saat pembuatan kompos limbah organik/pertanian
Pembuatan Kompos Limbah Organik Pertanian dengan Promi
Bahan :
Jerami, rumput-rumputan, seresah,air dan jika ada kotoran ternak/pupuk kandang.
Peralatan :
Sabit/parang, ember/bak untuk tempat air, ember untuk menyiram aktivator, tali, cetakan dari bambu/kayu, plastik penutup/terpal, sekop garpu/cangkul.
Dosis :
Promi terdiri dari 2 bagian, yaitu T dan A. Dosis Promi adalah masing-masing 1/4 kg untuk setiap 1 m3 bahan.
Tahapan
1. Masukan air ke dalam bak/ember. Volume air yang diperlukan kurang lebih 300L untuk setiap 1 m3
2. Masukan Promi ke dalam bak sesuai dosis yang diperlukan. Aduk hingga tercampur merata.
3. Siapkan cetakan bambu
4. Masukan jerami lapis demi lapis
5. Siramkan Promi pada setiap lapisan secara merata.
6. Padatkan setiap lapisan jerami dengan cara diinjak-injak.
7. Setelah cetakan penuh, buka cetakan bambu.
8. Tutup tumpukan jerami dengan plastik


9. Ikat plastik dengan tali. Beri pemberat pada bagian atas plastik.
10. Tumpukan jerami dibiarkan selama 2 - 4 minggu.
Pengamatan
Setelah inkubasi dua minggu, lakukan pengamatan hingga ke bagian dalam tumpukan. Buka plastik penutup dan amati tumpukan jerami tersebut. Pengomposan berjalan baik apabila :
- terjadi penurunan tinggi tumpukan
- jika dipegang terasa panas
- tidak berbau menyengat
- tidak kering
- jerami mulai lunak
Lakukan hal-hal berikut :
- apabila tumpukan tidak panas dan jerami kering, maka tambahkan air secukupnya.
- apabila berbau menyengat dan tumpukan terlalu basah, maka tancapkan bambu yang telah di lubangi untuk menambah aerasi.
- jika perlu lakukan pembalikan.
Kompos dipanen apabia telah cukup matang. Ciri kompos telah matang :

- berwarna coklat kehitam-hitaman,
- lunak dan mudah dihancurkan,
- suhu tumpukan sudah mendekati suhu awal pengomposan,
- tidak berbau menyengat, dan
- volume menyusut hingga kurang lebih setengahnya.
Aplikasi
Kompos yang dihasilkan adalah kompos diperkaya yang mengandung mikroba bermanfaat,
yaitu : Trichoderma harzianum yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman.
T. pseudokoningii yang dapat mengendalikan tanaman dan Aspergillus sp yang dapat melarutkan fosfat.
Kompos diaplikasikan di tempat jerami tersebut diambil.
Kamis, 26 Februari 2009
Petunjuk Penggunaan Promi
Rabu, 25 Februari 2009
Membuat Kompos Sederhana
Membuat Kompos
Seorang teman, CB, bilang kepadaku, 'Mbok ya diterangkan bagaimana cara membuat kompos ala kamu, gitu. Agar semua orang percaya kamu itu memang enggak cuman cuap-cuap doang!'. Aku pikir, ada baiknya juga. Berikut adalah langkah sederhana membuat kompos yang sangat tidak memerlukan daya yang besar. Sungguh!
1. Siapkan Reaktor Kompos (Komposter)
Ketika aku pindah ke Cimahi sebulan yang lalu, reaktor yang telah kubuat setahun yang lalu kubawa serta. Reaktor ini adalah wadah yang terabut dari PVC, drum berukuran kira-kira 1 m-kubik. Walaupun reaktor komposku terbuat dari drum PVC (seperti yang terlihat pada Gambar di atas), sebenarnya reaktor ini bisa dibuat dari apa saja. hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah, reaktor ini harus memiliki sistem ventilasi yang bagus. Reaksi pengkomposan adalah memang jenis reaksi yang memerlukan udara. Jika reaktor ini tidak memiliki sistem ventilasi yang baik, proses pembusukan yang terjadi juga akan menghasilkan bau busuk akibat dari pembentukan amoniak dan H2S.
2. Persiapan Bahan Organik
Siapkan bahan (atau sampah) organik yang akan dikomposkan. Sampah organik yang disiapkan bisa berasal apa saja, misalnya dari sisa sayuran, nasi, atau potongan-potongan tanaman dari kebun. Agar kompos tidak berbau, hindari memasukkan daging, tulang dan minyak. Sebelum dimasukkan ke dalam reaktor kompos, bahan-bahan tadi sebaiknya dipotogn kecil-kecil agar proses dekomposisinya menjadi lebih cepat dan lebih sempurna.
Proses pembusukan atau dekomposisi memerlukan bakteri pengurai. Jadi, alangkah baiknya jika bahan-bahan tadi dicampur terlebih dahulu dengan sumber bakteri pengurai sebelum
dimasukkan ke dalam reaktor kompos. Sumber bakteri pengurai yang paling mudah didapat adalah pupuk kandang (kotoran ternak). Bakteri pengurai yang dapat digunakan untuk membantu proses pengomposan juga dijual di toko-toko penjual pupuk. Salah satunya adalah EM4 (Effective Microorganism 4) yang aku beli di Cihideung seharga Rp. 15000,- sebotol berukuran 1 liter.
3. Siram dan Aduk
Agar proses pengomposan berjalan dengan sempurna, media harus mengandung kira-kira 50% air. Jadi jangan lupa untuk selalu menyiram media kompos ini setiap hari dengan air secukupnya. Bila perlu, bolak-balik media kompos setiap hari agar proses aerasi berjalan sempurna. Selama proses pengomposan, sering kali lalat menjadi masalah yang menjengkelkan. Oleh sebab itu, kuusahakan agar setiap lubang di reaktor komposku kututup dengan kawat kasa. Bila bau tak sedap keluar, tambahkan air dan EM4, dan bau segera menghilang. Jika proses ini berjalan dengan baik, setelah 5 hari volume sampah yang dimasukkan akan menyusut kira-kira menjadi hanya 25% dari volume awalnya. Jadi untuk skala rumah tangga, reaktor kompos berukuran 1 m-kubik sudah lebih dari cukup.
4. Panen
Kompos siap dipanen setelah diproses kira-kira 2-3 minggu, bergantung pada tahap pemrosesnya. Pada reaktor komposku, sengaja kubuat sebuah sistem sederhana sehingga proses pemanenan kompos dilakukan dari dasar reaktor. Kompos yang diperoleh adalah lumpur hitam yang mengandung air kira-kira 50%. Sehingga, untuk mendapatkan kompos kering, lumpur tadi harus dijemur. Biasanya, lumpur yang kuperoleh langsung kupakai sebagai media tanaman di kebunku. Jadi tidak perlu dijemur dahulu.
Mudah, kan? Sederhana dan jauh lebih sehat. Sejak setahun yang lalu, aku tidak pernah lagi membuang sampah organik. Sampah organik yang kuhasilkan, kupakai sendiri.
Moga-moga CB puas! :-)"
Sumber :Bandung's Waste
Selasa, 24 Februari 2009
Cara Mudah Membuat Kompos
Cara Mudah Mengolah Sampah Pasar 1
Masalah sampah menjadi salah satu permasalahan di setiap kota, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia. Penangangan masalah sampah yang tidak baik akan menimbulkan dampak yang luas, tidak saja bagi lingkungan, tetapi juga berdampak buruk bagi perekonomian, dan sosial. Contoh kongkrit adalah permasalahan sampah di kota Bandung beberapa waktu yang lalu.Penanganan masalah sampah sebenarnya tidak terlalu susah. Namun juga tidak sederhana. Untuk menangani masalah sampah ini diperlukan kemauan yang kuat baik dari pemerintah maupuan masyarakat. Kami ingin berbagi pengalaman tentang penanganan sampah organik pasar. Kegiatan ini adalah hasil kerjasama Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia dengan Yayasan Danamon Peduli. Tulisan ini ditulis berdasarkan laporan dari Dian Al Arief B yang berada di lapangan selama beberapa minggu. Semoga bermanfaat.
Pasar Bunder Sragen
Pedagang pun sudah mulai sadar untuk memisahkan sampah organik dengan sampah non organik. Sampah sisa-sisa sayuran ditempatkan di tempat yang terpisah dengan sampah plastik.
Hal ini sangat memudahkan petugas sampah untuk sortasi sampah.
Sampah non organik mudah dipisahkan
Hebatnya lagi, jika kebetulan ada sampah yang tidak terangkut oleh petugas kebersihan para pedagang dengan sukarela mengupah mbok-mbok tukang angkut untuk membuat sampah ke tempat sampah. Ongkosnya Rp. 1000 untuk setiap kali membuang sampah.
Mbok-mbok tukang angkut me mbuang sampah atas suruhan pedagang pasar.Banyaknya sampah organik dari pasar Bunderan Sragen kurang lebih sebesar 5 ton per hari. Maka jika sampah organik ini diolah menjadi kompos maka bisa dihasilkan kurang lebih 2.5 ton kompos/hari atau kurang lebih 75 ton sebulan.
Nilai ekonominya lumayan besar juga. Misalkan saja kompos tersebut dihargai Rp. 250/kg maka nilainya mencapai Rp. 18.750.000 (Catatan:nilai ini bukan angka resmi hanya dugaan saya saja).
Selain kompos, pengolahan limbah organik pasar juga menghasilkan pupuk organik cair yang jumlahnya mencapai 180 liter/hari atau 5400 liter/bulan. Jika diasumsikan harga pupuk cair mencapai Rp. 20.000/liter maka nilainya bisa mencapai Rp. 10.800.000 /bulan (catatan: sekali lagi ini bukan angka resmi tetapi dugaan saya saja). Jika dijumlahkan maka potensi nilai ekonominya mencapai Rp. 29.550.000/bulan. Jumlah yang cukup besar. Dan saya rasa ini bisa untuk membiayai pengelolaan sampah di pasar tersebut.
Pertanyaannya kemudian adalah Siapa yang mau membeli kompos dan pupuk organik cair tersebut. Artinya bagaimana cara menjualnya dan di mana pasarnya. Sampai saat ini saya belum mendapatkan informasi yang jelas untuk hal ini.
Namun, demikian kompos dan pupuk cair ini bisa digunakan untuk banyak hal. Andaikan belum lakupun bisa digunakan untuk memupuk tanaman-tanaman di pinggir jalan, taman-taman kota,
perkantoran pemerintah, dan lain-lain. Atau melalui dinas-dinas terkait pupuk organik ini bisa diberikan kepada para petani yang ada di sragen. Banyak manfaat ganda yang diperoleh dari pengolahan sampah pasar ini.
Rumah Kompos
Untuk memperlancar kegiatan ini Yayasan Danamon Peduli membangun rumah kompos yang didesain secara khusus. Secara umum rumah kompos terdiri dari bak-bak inkubasi berjumlah sekitar 14 bak, tempat untuk menampung sampah, ruang pencacahan dan mesin pencacah, tempat untuk menampung s ampah non organik, ruang pengemasan, dan d isplay. Di dalam rumah kompos tersebut didesain pula saluran-saluran air untuk menampung air lindi yang keluar dari sampah dan ditampung di ba k fermentasi sebelum diolah menjad i pupuk cair.Rumah kompos yang sed ang dalam proses pembangunan.
Bak pengomposan.
Prosedur Pengomposan
Prosedur umum pengomposan pada prinsipnya hampir sama seperti pada prosedur yang telah saya jelaskan di bagian lain . Tetapi ada sedikit modifikasi yang disesuaikan dengan karakteristik bahan yang akan dikomposkan. Langkah-langkah umumnya sebagai berikut.
Sampah dikumpulkan dari dalam pasar dan ditampung di ruang penampung an. Di tempat ini sampah non organik dipisahkan dengan sampah organik. Karena sebagian besar sampah pasar Bu nderan adala h sampah organik, tahapan ini mudah dilakukan secara manual.

Menampung sampah sekaligus menyortir sampah non organik
Sampah organik yang sudah terpisah dengan sampah non organik selanjutnya dicacah dengan menggunakan mesin pencacah. Tujuan dari pencacahan ini adalah untuk memperkecil dan menyeragamkan bahan baku kompos.
Umumnya untuk bahan-bahan lain PROMI diencerkan dengan air , tetapi untuk sampah pasar ini PROMI tidak boleh diencerkan dengan air. Kandungan air di da lam sampah sudah cukup tinggi sehi ngga penambahan air akan kur ang baik untuk proses pengomposan. Bahan yang digunakan untuk mengencerkan PROMI adalah pasir atau tanah kering. Tanah/Pasir diayak terlebih dahulu sebelum digunakan.
4. Pecampuran PROMI di dalam Bak Pengomposan
padat dan kandungan udara di dalam kompos berkurang.
Setelah penuh, sampah ditutup dengan terpal plastik dan didiamkan selama 14 hari
Sampah ditutup dengan terpal plastik dan diikubasi.
Kompos matang setelah 14 hari.
5. Panen Kompos
Setelah 14 hari sampah akan berubah warna menjadi kehitaman dan menjadi lebih lunak. Kompos sampah telah cukup matang. Kompos selanjutnya dipanen dan dibawa ke tempat pengolahan lebih lanjut. Di tempat ini kompos dicacah lagi dan dikemas ke dalam karung-karung plastik.
6. Pengolahan Paska Panen
Setelah dipanen kompos dijemur untuk mengurangi kadar air kompos. Kompos yang telah kering selanjutnya dicacah agar ukurannya seragam dan menarik. Kemudain kompos dikemas ke dalam karung-karung plastik.
Penjemuran & Pengemasan
Lanjut membaca “Cara Mudah Membuat Kompos” »»
Senin, 23 Februari 2009
Temu Konsultasi & Rapat Kerja KT. Kecamatan Kresek
Temu Konsultasi & Rapat Kerja Karang Taruna Kecamatan Kresek yang di laksanakan pada tanggal 22 Pebruari 2009 merupakan Forum Pengambilan Keputusan bagi organisasi Karang Taruna di tingkat Kecamatan yang di selenggarakan dalam rangka menyusun dan merumuskan Program Kerja Karang Taruna Kecamatan Kresek guna menjaga eksistensi dan kesinambungan organisasi Karang Taruna untuk senantiasa memberikan konstribusi positif kepada kehidupan masyarakat, kebangsaan, ke Negaraan terutama kesejahteran sosial.
Dengan adanya Temu Konsultasi ini KT. Kecamatan Kresek termotivasi untuk melakukan kegiatan ekonomi produktif seperti Pembuatan Pupuk Organik yang disampaikan salah satu Pengurus Karang Taruna desa Jengkol Kecamatan Kresek.KT Kecamatan Kresek mengharapkan ada anggota KT di wilayahnya yang di ikut sertakan pada Pelatihan-pelatihan yang sifatnya insentif melalui pusat-pusat pelatihan atau BLK dan bukan hanya sebatas pelatihan yang sifatnya proyektif, sehingga dapat menghasilkan tenaga-tenaga yang benar-benar terampil di bidangnya.
Lanjut membaca “Temu Konsultasi & Rapat Kerja KT. Kecamatan Kresek” »»
Senin, 16 Februari 2009
Sang Jenderal Atasi Infeksi Kemih
Ini pertanda makhluk mini Escherichia coli menginfeksi saluran kemih: panas bagai terbakar ketika berurine. Perut bagian bawah sakit dan urine keruh indikasi lain. Itulah sebabnya bagi penderita infeksi saluran kemih, berurine saat-saat paling menyiksa. Minum rebusan daun kejibeling, mampu menyudahi siksaan itu. Bakteri anggota keluarga Enterobacteriaceae itu datang menginfeksi saluran kemih karena gaya hidup tak sehat seperti jarang mengganti pakaian dalam dan alpa membersihkan alat kelamin setelah berurine. Dalam riset ilmiah, Dr dr Indwiani Astuti, Dr dr Praseno SpMK, dan Lubena membuktikan bahwa kejibeling Strobilanthes crispus manjur mengatasi infeksi saluran kemih atau ureter. Saluran kemih atau ureter berfungsi mengalirkan urine dari piala ginjal ke kandung kemih. Mereka memanfaatkan jasa baik 20 mencit. Saluran kemih satwa percobaan itu diinfeksi bakteri E. coli. Indwiani membagi mencit-mencit itu menjadi 4 kelompok masing-masing terdiri atas 5 ekor. Ia memberikan ekstrak kejibeling pada kelompok pertama, siprofloksasin (grup II), campuran ekstrak kejibeling dan siprofloksasin (grup III). Grup keempat merupakan kelompok kontrol. Dosis dan frekuensi pemberian untuk ketiga kelompok sama: 0,1 cc per ekor 2 kali sehari selama 3 hari. Periset itu memperoleh ekstrak dengan merebus 500 gram daun kejibeling dalam 2 liter air hingga mendidih dan tersisa separuh. Tablet siprofloksasin lazim sebagai obat untuk mengatasi infeksi ureter yang banyak diresepkan para dokter. Indwiani melarutkan 500 gram siprofloksasin dalam 40 ml air sehingga konsentrasi menjadi 1,2 per 0,1 cc. Pada hari ke-4 setelah perlakuan, ia mengambil ginjal dan ureter satwa percobaan, serta menumbuk secara terpisah hingga hancur. Untuk mengetahui jumlah bakteri E. coli, Indwiani 'menumbuhkan' gerusan ginjal dan ureter di media agar selama 18-24 jam pada suhu 37oC. Setelah itu ia menghitung koloni bakteri berbentuk batang itu. Hasilnya, koloni E. coli di satwa percobaan yang minum ekstrak kejibeling lebih rendah. Koloni bakteri di ginjal hanya 64 x 105, 200 x 105 (ureter), dan 0,01 x 105 per ml urine. Bandingkan dengan koloni kuman di mencit yang minum siprofloksasin: koloni bakteri 6 kali lebih banyak ketimbang rekannya yang minum ekstrak kejibeling. Yang paling tokcer, keruan saja perpaduan ekstrak kejibeling dan siprofloksasin. Menurut ahli Farmakologi Kedokteran Universitas Gadjah Mada itu campuran kejibeling dan siprofloksasin membunuh bakteri serta menghambat replikasi DNA bakteri. Sayangnya, dengan antibiotik siprofloksasin resesi bakteri bakal meningkat dari waktu ke waktu. Selain itu konsumsi siprofloksasin berefek samping seperti mual, muntah, diare, sakit kepala, dan gangguan kulit berupa gatal. Oleh karena itu pasien infeksi ureter berat akibat MRSA methicillin resistant Staphylococcus aureus, enterokokus, dan pneumokokus menghindari konsumsi siprofloksasin. Kejibeling yang juga sohor sebagai ngokilo itu justru sebaliknya. 'Ngokilo bekerja dengan menstimulasi sistem imun tubuh sehingga lebih aktif dalam mengeliminasi bakteri E. coli,' kata Indwiani. Riset itu sejalan dengan hasil penelitian Drs Djoko Hargono dari Balai Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan Jakarta. Djoko menguji praklinis dengan menginjeksi 1% sel darah merah domba ke tubuh tikus winstar. Tujuannya untuk megetahui respons imunitas darah mencit yang diberi konsumsi 9 mg, 90 mg, dan 900 mg ekstrak kejibeling per ml selama sepekan. Pemberian perasan daun kejibeling segar terbukti mampu meningkatkan respon kekebalan tubuh mencit. Itu lantaran adanya peningkatan titer antibodi alias perhitungan zat antibodi dalam darah. Menurut Djoko, senyawa perasan daun kejibeling segar diduga berperan sebagai mitogen. Mitogen merupakan molekul penginduksi sel agar membelah. Ketika mitogen bereaksi dengan permukaan sel imun, menghasilkan perubahan sel-sel imun tubuh yang bereaksi terhadap antigen. Begitu bakteri patogen seperti E. coli menyerang, mitogen mempengaruhi sel B untuk mensekresi antibodi dengan mengaktifkan sel T penolong. Dengan adanya mitogen respon imun berlangsung lebih tinggi dan lama. Menurut Prof Dr Sumali Wiryowidagdo, guru besar Jurusan Farmasi Universitas Indonesia, kejibeling mempunyai senyawa fenol bersifat antibakteri. 'Toksisitas senyawa fenol itu merusak membran sel bakteri dan bersifat sebagai desinfektan (bahan untuk mencegah infeksi atau pembasmi kuman penyakit, red) yang ampuh,' kata Sumali. Daun kejibeling pun kaya mineral kalium, kalsium, magnesium, dan fosfor. Kandungan senyawa organik antara lain karbohidrat, lender, steroid, triterpenoid, dan protein. Sumali Wiryowidagdo mengatakan konsumsi kejibeling dengan merebus 8 daun setara 25 g yang dirajang kecil dalam 3 gelas air hingga mendidih dan tersisa ¾ bagian. Air rebusan berwarna hitam. Oleh karena itu masyarakat Tionghoa menyebut kejibeling dengan nama hei mian jiang jun yang berarti jenderal bermuka hitam. Setelah itu saring hasil rebusan, tambahkan madu secukupnya, dan minum selagi hangat. Hasil rebusan itu diminum 3 kali sehari. Tanaman asal Madagaskar yang masuk ke Indonesia pada 1800-an itu juga berkhasiat antikanker. Prof Asmah Rahmat, periset dari Departemen Gizi dan Kesehatan Universitas Putra Malaysia, membuktikannya dalam uji in vitro. Betasitosterol dan stigmasterol dalam kejibeling tokcer membunuh sel kanker usus, kanker payudara, dan kanker hati. Asmah meneteskan ekstrak kejibeling pada ke-3 sel kanker itu. Konsentrasi 25,1 mikrogram dan 28,0 mikrogram ekstrak kejibeling cukup membunuh sel kanker usus dan kanker hati. Efek mematikan itu tak berlaku bagi sel normal. Maklum, tumbuhan anggota famili Acanthaceae itu antara lain mengandung asam kafeat, asam vanilat, asam gentinat, dan asam sirinat. Senyawa itu bahu-membahu dengan kalium (51%), kalsium (24%), natrium (24%), dan ferum (1%) menyumbang konsentrasi antioksidan yang lebih tinggi ketimbang vitamin E. Ingat, kejibeling mengandung enzim asparaginase. Ia mampu mengubah asparagin-protein untuk pertumbuhan tumor-menjadi asam aspartat dan amonia. Kejibeling yang dibawa ke Indonesia oleh Thomas Anderson, penyelia Kebun Raya Calcutta, India, itu terbukti multikhasiat. Tak semestinya kita membiarkan kejibeling cuma sebagai tanaman pagar pembatas halaman. (Faiz Yajri & Vina Fitriani)
Petani Modern Yang Sukses
Banyak petani yang kini bernasib naas, hanya menjadi tukang tanam. Namun, di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa barat, ada petani-petani yang telah berhasil memperlihatkan diri sebagai petani modern yang sukses. Cirinya, kehidupan mereka tidak hanya berkutat di kebun. Mereka memiliki banyak waktu untuk membagi ilmu kepada masyarakat petani lain agar bisa menjadi lebih maju.
Menurut buku Fokus Hidup karya Jerry Foster, seorang perencana keuangan di Amerika serikat yang telah menjadi pembicara dalam Family Life, Weekend to Remember, Marriage Conferences, kesuksesan hidup memberikan lima dimensi keuntungan, yaitu finansial, intelektual, hubungan, rohaniah, dan jasmaniah. Semua dimensi ini tampak menjadi keseharian para petani di Desa Cibodas.
Menurut Doyo Mulyo Iskandar, seorang petani sekaligus Ketua Kelompok Tani Mekar Tani Jaya di desa tersebut, hampir seluruh petani di desanya memiliki pegawai di kebun. Jumlah pegawainya mencapai 4-50 orang.
Mereka bekerja secara berkelompok untuk memenuhi permintaan pasar secara berkesinambungan. Kesinambungan usaha yang dibangun atas dasar kerja sama ini mengakibatkan mereka bisa mendapatkan penghasilan Rp 2 juta per bulan.
Para petani juga bisa menabung untuk membangun rumah, juga menyekolahkan anak hingga ke perguruan tinggi. Rumah- rumah mereka umumnya bersih dan besar. Selain rumah untuk kepentingan keluarga, mereka juga bisa membangun rumah untuk kepentingan tamu.
Doyo, misalnya, ia memiliki satu rumah lain lengkap dengan perabot rumah tangga yang ia sediakan sebagai penginapan para tamu, baik petani, mahasiswa, maupun pegawai dari berbagai dinas yang ingin mempelajari pertanian di desanya hingga beberapa hari.
"Kalau ada rezeki, saya tabungkan uang untuk membeli kasur baru agar semua orang yang datang bisa tidur dengan enak," kata Doyo.
Petani di Kelompok Tani Mekar Tani Jaya tidak menghabiskan waktu mereka di kebun untuk bekerja. Mereka sering pergi ke berbagai desa lain di Jawa Barat maupun di provinsi-provinsi lain untuk melatih petani. Sejak awal, para petani ini berkomitmen untuk berkonsentrasi membangun kemitraan dan melakukan pelatihan kepada para petani.
"Saya puas melakukannya. Bertemu dengan petani dan membagikan ilmu bukan berarti menambah saingan. Kami malah bisa mendapat ilmu baru," kata Doyo.
Doyo mencontohkan, selama ini ia dan para petani di Cibodas menanam stroberi dengan media tanah. Ternyata saat mengadakan pelatihan menanam stroberi di Jawa Tengah, para petani biasa bertani dengan menggunakan sekam. "Ternyata dengan sekam, air bisa tersimpan lebih lama. Bagi mereka, hal tersebut merupakan cara biasa, tapi buat kami itu pengetahuan baru," tutur Doyo.
Hampir di seluruh perkebunan milik petani, para buruh tani dipersilakan meluangkan waktu untuk menggarap tanaman yang mereka kelola di halaman atau di lahan yang mereka sewa. "Di kelompok tani Desa Cibodas, biasanya jika ada anggota kelompok yang sudah mampu mandiri, mereka dipersilakan keluar dan membentuk kelompok sendiri untuk melatih petani lain yang belum bergabung," ujar Doyo.
Tak heran jika di desa ini terdapat 16 kelompok tani. Setiap kelompok memiliki fokus usaha dan pelatihan sendiri. Kelompok Gapura Tani merupakan pengada bibit pertanian, Mekar Tani Jaya I mengurus pupuk organik, PD Grace membidangi sayur- mayur eksklusif untuk supermarket dengan bibit impor berikut teknologinya.
Ada juga Kelompok Tani Budi Rahayu yang ahli di bidang pertanian buncis. Kelompok Tani Wangi Harum membidangi bunga potong, dan Yans Fruit and Vagatables merupakan pencari pasar produk pertanian. Para petani di kelompok-kelompok tani bergabung dalam Paguyuban Pandu Tani.
Melalui kelompok-kelompok pula, para petani berhasil memikat generasi muda untuk bekerja di bidang pertanian. Bobon Turbansyah (53), misalnya, ia memberi peluang sangat besar bagi pemuda di desanya bekerja di lahan pertanian, gudang pengepakan, atau kantor administrasi pemasaran dalam agrobisnisnya. Pemuda pencandu narkoba dan penderita gangguan jiwa pun dilibatkannya.
Hingga kini, setiap tahun sekitar 30 remaja berhasil dididik sebagai petani. Angka urbanisasi di Desa Cibodas pun sangat rendah, hanya tiga persen per tahun. Sementara penduduk baru mencapai 15 persen per tahun.
Dalam kelompok-kelompok tani, pengurus tidak mendapatkan gaji. Namun, kelompok membayar gaji kepada pekerja-pekerja yang mengurusi soal bisnis. Misalnya, pekerja di bidang administrasi pertanian. Gaji mereka bisa lebih dari Rp 1 juta per bulan.
Para petani juga selalu menyisihkan sedikit lahan di kebun untuk percobaan dengan memberi perlakuan khusus pada tanaman agar mampu mencapai produktivitas dan kualitas terbaik bagi hasil pertaniannya.
Selain itu, sebelum menanam suatu jenis tanaman, mereka melakukan analisis usaha. Dengan analisis usaha yang baik, mereka bisa melibatkan investor untuk bermain di dalam usaha pertanian mereka. Para petani pun sudah mampu membuat proposal. Salah satu hasilnya, para pensiunan dari sebuah perusahaan telekomunikasi besar di Indonesia siap berinvestasi.
Tak hanya itu, dengan analisis usaha, mereka juga bisa dengan mudah mendapat pinjaman dari bank. Bahkan, karena lancar dalam pembayaran, bank bersedia memberi pinjaman lagi dengan jumlah yang lebih besar untuk digunakan sebagai modal usaha.
Dalam menganalisis usaha pertanian, Ishak (41), seorang petani sayuran, sudah memanfaatkan jaringan internet untuk mengetahui perubahan harga, komoditas unggulan, perubahan cuaca, metodologi dan pola bertani yang baru. "Tidak semua petani bisa menggunakan internet, tapi biasanya saya menyampaikan kepada mereka tentang informasi-informasi baru dalam pertemuan informal, sambil ngobrol sore-sore," kata Ishak.
Tak hanya itu, para petani di Desa Cibodas pun punya waktu libur, lho. Mereka mengatur sendiri waktu mereka beristirahat dan berkumpul seharian dengan keluarga. Betapa menyenangkannya menjadi petani modern, bukan?
Lanjut membaca “Petani Modern Yang Sukses” »»
Desa Cibodas,Kampus Para Petani
Sayur-mayur tidak bisa dipisahkan dari perkembangan Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Di desa berhawa dingin dengan tiupan angin menyejukkan ini, sayur ditanam di mana-mana. Di pekarangan, di samping, dan di belakang rumah, juga di kebun-kebun. Rumah-rumah di desa yang berketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut dengan suhu 18-26 derajat Celsius ini asri.
Sebagian besar rumah penduduknya bagus-bagus dengan dinding tembok dan lantai keramik. Jalan pun beraspal cukup mulus. Di depan jalan utama di Desa Cibodas bahkan ada kolam renang untuk anak-anak berekreasi dan berolahraga. Kolam itu berada dekat lahan pertanian sayur.
Rumah penduduk dengan halaman luas biasanya dihiasi rumput hijau dan bunga-bunga. Namun, banyak juga yang menjadikan pekarangan rumah sebagai sumber ekonomi, misalnya dengan menanami kaboca (labu jepang), seledri, bawang daun, dan brokoli, atau berbagai bibit sayuran untuk dijual kepada petani di sekitarnya.
Tina (26), seorang ibu rumah tangga, leluasa membantu suaminya menanam bibit cabai di halaman rumah sambil mengurus anaknya yang masih bayi. Di belakang rumahnya, ia juga menanam 30.000 bibit brokoli. Para petani di sekitarnya biasa membeli bibit langsung ke rumahnya dengan harga Rp 30 per kantong (polibag).
Demikian juga dengan Medi Juanda (53), seorang petani. Karena permintaan sayur dari para pedagang tidak bisa dipenuhi hanya dari kebunnya, Medi menggunakan halamannya untuk ditanami seledri dan bawang daun.
Di kebun-kebun tampak aneka warna sayuran. Ada yang ungu, putih, kuning, merah, hijau, oranye, hingga hitam. Seluruh warna begitu menggemaskan, segar, pekat, dan bersinar, menggiurkan untuk disantap. Dari sayur lokal hingga sayur yang bibitnya didatangkan dari Jepang atau Belanda.
Desa ini memproduksi kentang, kubis, brokoli, cabai merah, daun bawang, seledri, dan berbagai jenis tomat. Ada juga paprika belanda yang gemuk dan besar seperti apel. Tumbuh juga berbagai sayuran yang bibitnya dari Jepang, seperti mizuna (daun lobak), syungiku (kenikir), cisito (cabai), piman (paprika jepang yang berbentuk lonjong), kyuri (mentimun), damame (kedelai), satsumaimo (ubi jalar), ingen (buncis), nasubi (terung), gobo (semacam gingseng), kaboca (labu), sironegi (bawang daun), asparagus jepang, dan horenso (bayam).
Hampir seluruh keluarga di desa yang terletak di belakang Taman Wisata Maribaya ini menggantungkan hidup dari pertanian sayur atau hortikultura. Berdasarkan data tahun 2004, dari 8.904 penduduknya, ada 2.464 yang telah memiliki mata pencarian. Sebanyak 1.507 orang dari jumlah penduduk yang telah bekerja adalah petani, terdiri dari 746 petani pemilik lahan dan 761 buruh tani.
Sebagian besar petani mampu mengembangkan pertanian dengan pola modern mengikuti tuntutan teknologi budidaya pertanian. Selain itu, pasar komoditas pertanian di desa ini pun cukup berkembang. Hasil produksi sayur di desa ini dipasarkan ke Singapura, Taiwan, dan dalam waktu dekat akan diekspor ke Korea Selatan. Selain itu, ada petani yang menjualnya ke supermarket di Jakarta, Denpasar, Surabaya, dan Bandung. Sisanya untuk pasar-pasar induk di Jawa Barat dan Jakarta.
Dengan keberhasilan ini, rasanya sulit membayangkan bahwa desa yang dibuka oleh keluarga Eyang Sarja dan Pawira dari Cibeunying, Kota Bandung, tahun 1886 ini akan maju seperti sekarang. Sejak masa penjajahan, masyarakat di desa ini hidup dari pertanian sayur. Hanya saja, sayur yang ditanam waktu itu sebatas ubi jalar, jagung, cabai, kol, dan kentang.
Pada masa kemerdekaan hingga 1980-an, sebagian besar petani menjual produksinya ke pasar-pasar tradisional. Sayur yang akan dijual dimasukkan begitu saja ke dalam karung. Para petani hanya tahu menanam. Mereka lebih sering merugi karena mendapatkan harga sayur yang jatuh di musim panen.
Oleh karena itu, sebagian penduduk kampung tidak bisa hidup sejahtera. Rumah mereka yang berdinding anyaman bambu tampak kumuh dan reot. Penyakit menular menjangkiti penduduk karena lingkungan yang tidak sehat. Kandang ternak menempel langsung pada rumah-rumah penduduk.
Jika malam tiba, penduduk terisolasi karena listrik belum masuk. Listrik baru masuk ke desa itu tahun 1985. Jika turun hujan, jalan tanah yang menurun dan menanjak menjadi licin hingga sulit dilalui kendaraan. Kini jalan sudah beraspal, rumah-rumah sudah memiliki jamban sendiri. Rata-rata petani di desa ini berpenghasilan Rp 2 juta per bulan.
Para petani di desa ini bukan petani biasa. Meski sebagian besar hanya tamat sekolah dasar, mereka cukup percaya diri untuk saling tukar ilmu dengan para pejabat dari berbagai dinas pertanian di Indonesia, mahasiswa, serta petani dari luar negeri, seperti Nigeria dan negara-negara lainnya di Asia.
Setidaknya, desa ini menjadi langganan praktik lapangan dan tempat penelitian bagi orang- orang yang terjun di bidang pertanian hortikultura. Desa Cibodas ibarat kampus bagi para petani. Setiap tahun sekitar 200 tamu datang ke desa ini. Para tamu biasanya menginap sampai tiga hari, bahkan ada yang tinggal menetap sampai enam bulan.
Untuk penginapan dan makan, para tamu tak perlu pusing. Sejumlah warga bersedia memberikan tumpangan untuk menetap dengan tempat tidur dan jadwal makan teratur. Biayanya hanya berkisar Rp 90.000 per orang. Listrik dan air bisa dipakai dengan gratis.
Belajar bertani di desa ini bisa juga gratis, disesuaikan dengan kemampuan mereka yang ingin belajar. Sebab, untuk perorangan ada beberapa petani yang siap menampung dan memberi latihan dengan cara magang di kebunnya.
Ilmu yang bisa diberikan para petani meliputi pemilihan bibit, proses produksi, teknologi budidaya terbaru dan terbaik, pemasaran, pengemasan, hingga lalu lintas ekspor produk pertanian serta analisis usaha tani.
"Tidak perlu takut membagi ilmu. Toh, ilmu pertanian selalu berkembang. Selain itu, petani tidak boleh menyerah, sebab ilmu yang didapat di desa ini mungkin harus mendapat perlakuan yang sedikit berbeda karena kondisi alam yang tidak sama di tempat petani lain. Justru dengan begitu kami jadi saling bertukar ilmu," kata Doyo Mulyo Iskandar (38), seorang petani.
Mereka belajar dalam program Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S). Program inilah yang memajukan kehidupan pertanian di desa ini. Program ini didirikan dan dikelola Ishak (40), petani sayuran, setelah ia mendapat kesempatan magang mempelajari pertanian di Jepang.
Lanjut membaca “Desa Cibodas,Kampus Para Petani” »»


















